//ganti background foto di sini//

Kamis, 27 Oktober 2011

Budaya Lio

Danau Kelimutu (Ende-Flores-NTT) erat kaitannya dengan keberadaan adat budaya masyarakat lokal. suku Lio, demikian salah satu nama suku yang berada di sekitar G. Kelimutu. Mereka percaya bahwa Danau Kelimutu merupakan tempat bermukim bagi arwah orang yang telah meninggal dunia. Sakral dan misteri. Arwah yang telah meninggal akan menempati salah satu dari tiga kawah di Gunung Kelimutu, yang ditentukan berdasarkan usia dan perbuatan. Kawah/Danau Tiwu Ata Polo (Tiwu : Danau; Ata : Orang; Polo : Jahat) yang berwarna biru diperuntukkan bagi arwah yang semasa hidupnya berbuat jahat terhadap sesama (tukang tenung). Kawah/Danau Tiwu Nuamuri Koofai (Tiwu : Danau; Nuamuri : Pemuda; Koofai : Pemudi) yang berwarna hijau tourquise diperuntukkan bagi arwah muda-mudi. Ke dua danau ini berdampingan dan hanya dibatasi oleh dinding batu yang semakin menipis. Kawah/Danau Tiwu Ata Bupu (Tiwu : Danau; Ata : Orang; Bupu : Tua/Baik) yang berwarna hijau lumut diperuntukkan bagi arwah orang tua/orang baik. Selama tiga (3) tahun terakhir tepatnya setiap tanggal 14 Agustus, Pemerintah setempat bersama komunitas masyarakat adat Suku Lio menyelenggarakan upacara adat untuk memberikan penghormatan terhadap leluhurnya. Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata, demikian nama upacara adat tersebut yang berarti “Memberi Makan Untuk Arwah Nenek Moyang”. Upacara adat ini diikuti oleh kelompok/perwakilan komunitas masyarakat adat berjumlah 15 komunitas. Satu (1) komunitas terdiri dari beberapa desa, walaupun ada yang 1 komunitas 1 desa. Walaupun stuktur adat dan budayanya sama, namun setiap komunitas dibedakan atas wilayah adatnya. Untuk menyatukan perbedaan tersebut, maka pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan upacara adat ini. Untuk mengikuti ritual adat ini, perwakilan komunitas adat dibatasi sebanyak 20 orang saja. Mereka berkumpul di puncak Gunung Kelimutu, dan yang melaksanakan ritual adatnya hanya pemimpin tertinggi dalam struktur adatnya atau dikenal dengan nama “Mosalaki Pu’u” yang berjumlah 9 orang. Iringan music bernuansa lokal yang ditabuh dengan penuh semangat menyambut kedatangan masyarakat adat, pemerintah dan wisatawan yang akan mengikuti prosesi ini. Tak terasa kaki bergoyang mengikuti irama penabuh gong dan gendang yang sepertinya tak kenal lelah memacu adrenalin setiap orang. Puncak ritual adat ini diawali dengan pemberian sesajen berupa daging babi, nasi beras merah, sirih pinang, tembakau dan moke (minuman keras local yang terbuat dari aren) yang diletakkan diatas batu yang menjadi mesbah/altar sesajian. Kemudian diakhiri dengan tarian gawi oleh Mosalaki Pu’u. Acara dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian oleh setiap perwakilan komunitas. Hal yang tampak menonjol yaitu dari busana yang dikenakan. Laki-laki mengenakan baju kutang, “luka lesu” (sejenis kain batik penutup kepala), sarung tenun bermotif local khusus untuk laki-laki. Perempuan mengenakan “lawo lambu”, sarung tenun ikat dengan motif dan warna yang lebih beragam dan tajam, baju lawo (sejenis daster), pernak-pernik hiasan kepala. Matahari semakin meninggi, peluh bercucuran, tetapi tak terlihat kelelahan pada wajah-wajah penyaji atraksi budaya lokal ini. Dengan senyum mengembang, satu persatu perwakilan adat beraksi, menampilkan tarian/nyanyian yang menggambarkan kedekatan mereka dengan Kelimutu. Wisatawan yang menyaksikan, dalam dan luar negeri, terkesima dengan pertunjukan dan penampilan setiap komunitas adat. Bahkan mereka tak sungkan untuk ambil bagian dalam tarian Lio. Liukan tubuh yang kaku perlahan menjadi gemulai seiring dengan keringat yang mulai bercucuran. Sekejap Kelimutu menjadi ramai dan meriah. Pihak Pemerintah yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Ende menyampaikan kebanggaan atas penghormatan dan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat terhadap Kelimutu dan leluhur mereka. Lebih lanjut beliau memberikan dukungan terhadap pelaksanaan ritual adat ini di waktu yang akan datang, dengan harapan akan terus dilaksanakan hingga anak cucu mereka. Acara ini ditutup dengan tarian gawi adat, dimana tarian dilakukan tidak dengan iringan music, namun hanya diiringi dengan pantun dalam Bahasa Lio yang dibawakan oleh Soda, pemimpin tarian. Gawi ini dapat berlangsung selama lebih dari setengah jam. Lelah ini telah berakhir, tetapi meninggalkan kesan yang mendalam bagi setiap orang Lio dan bahkan wisatawan yang menjadi saksi berlangsungnya ritual adat ini. Taman Nasional Kelimutu bukan hanya sekedar suatu kawasan konservasi dengan keanekaragaman hayatinya dan keunikan tiga kawah yang berbeda warna, tetapi merupakan pemegang kunci budaya Lio. Kelimutu membawa pengaruh yang cukup besar bagi aktifitas masyarakat Lio. Dalam kehidupan pertanian dan keagamaan mereka. Orang Flores khususnya masyarakat Lio boleh berbangga karena keberadaan Kelimutu di tanah mereka. Secara perlahan budayanya makin dikenal ke penjuru dunia. Ritual Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata hanya merupakan salah satu ritual adat dari sekian banyak ritual adat yang ada dalam komunitas adat masyarakat Lio. Selain Suku Lio, di Kabupaten Ende masih terdapat Suku Ende yang lebih dominan bermukim di Kota Ende, tetapi tetap percaya dengan nilai histori dan magis Danau Kelimutu. Ke dua suku ini hidup berdampingan, dalam proses budaya terjadi kawin mawin sehingga membentuk ikatan kekerabatan dan kekeluargaan yang sangat kuat. Hal ini membawa dampak kerukunan dalam setiap aspek kehidupan. Even budaya ini diharapkan mampu mendukung kearifan local untuk melestarikan Danau Kelimutu sebagai bagian penting dari adat budaya Suku Lio. Danau Kelimutu, Danau Tiga Warna, selalu menakjubkan bagi yang pernah menjejakkan kaki di bumi Flores. Terasa tidak sempurna, saat mata tak menatap pesona yang tersembunyi di belahan tengah Pulau Bunga ini.


Judul : Sinar budaya Lio dibalik mistis Kelimutu
Penulis : Alfonsus Tupen – PEH TN. Kelimutu

3 komentar:

FransRinduWanes mengatakan...

heheee,,,mantap,,,beberapa masukan nie,,,kalo boleh ditambahkan soal waktu (kapan) pelaksanaan upacara tersebut dilakukan? kemudian dirincikan pihak2 yg terlibat khususnya kelompok adat mana saja?,,,semoga kegiatan ini semakin hari semakin berkembang dan melibatkan semuat wilayah adat di kab. Ende khususnya suku2 di Lio,,,terima kasih,,wasalam

Tuteh mengatakan...

Nice info. Makasih untuk informasi berharga ini :D tapi mungkin waktu mau posting, diedit sedikit agar tulisannya lebih terlihat rapi... tapi tulisan ini KEREN kece sekali :)

Christin Yudith Wahyuni Ngga'a mengatakan...

FransRinduWanes: thanks masukannya, secepatnya akan diperbaiki. amien, wasalam..
cim Tuteh: Lupa cim, kirain dah rapi eh ternyata kacau baru nyadar neh.. thanks cim, nti ta sampaikan pada penulisnya dech.. :P

Posting Komentar